Friday, November 22, 2019

Akademi La Masia Tidak Secerah Dulu


Nanda Pryg - La Masia merupakan akademi dari salah satu klub terbaik di dunia, FC Barcelona. Dulunya pernah dibilang akademi terbaik di dunia, penghasil pesepakbola terbaik di dunia, tetapi sekarang semakin terpuruk. Nama terakhir yang bisa dikatakan sukses hanyalah Sergi Roberto yang dipromosikan pada musim 2013/14 oleh pelatih Barcelona saat itu, Tito Vilanova. Untuk kondisi sekarang ada nama Carles Alena di tim utama, tapi masih jauh dari kata sukses. Alena masih sulit menembus skuad utama karena Midfielder-nya dipenuhi pemain matang yang terus-terusan datang dan pergi. Selain Alena begitu banyak pemain lulusan La Masia yang disia-siakan.

La Masia pernah bangkit musim 2008/09 dengan meraih sextuple di tangan Pep Guardiola yang diikuti dengan kesuksesan para lulusannya. Saat itu Pep berani melepas nama-nama beken seperti Deco dan Ronaldinho, selanjutnya giliran nama-nama seperti Thierry Henry, Yaya Toure, dan Rafael Marquez yang dilepas. Hal itu memberi tempat kepada pemain La Masia di tim utama seperti Sergio Busquets, Gerard Pique, Pedro Rodriguez, dan terakhir Thiago Alcantara yang masih hijau saat itu. Tongkat estafet kemudian dilanjutkan oleh Tito Vilanova yang rutin memainkan pemain La Masia, puncaknya pada musim 2012/13 kala bertanding ke markas Levante, sebelas pemain di atas lapangan semuanya lulusan La Masia. La Masia mulai tidak dipercaya pada akhir masanya Luis Enrique dan itu semakin parah dimasanya Ernesto Valverde, tim utama semakin penuh dengan pemain Non-La Masia. Valverde dan Bartomeu lebih memilih membeli pemain matang yang begitu banyak, sehingga dari posisi inti sampai ke cadangan banyak diisi oleh pemain Non-La Masia, hal itu sangat menutupi peluang pemain lulusan La Masia untuk merebut posisi inti. Diberi kesempatannya Ansu Fati juga lebih disebabkan oleh tidak adanya opsi lain, karena saat itu Luis Suarez, Lionel Messi, dan Oussmane Dembele dilanda cedera, praktis tinggal nama Antoine Griezmann di posisi Forward. Jika dibilang La Masia itu menurun, Barcelona Juvenil A selalu berbicara banyak di kompetisi UEFA Youth League, musim kemarin Juvenil A mampu sampai ke babak Semi Final dan di musim 2017/18 Juvenil A keluar sebagai juara. Tapi siapa dari mereka yang setidaknya meraih lima caps di tim utama? Hanya Ansu Fati.

Disamping karena kurangnya kepercayaan oleh pelatih dan pemilik klub yang menginginkan suatu hal yang instan, menurunnya La Masia juga disebabkan oleh proyek Masia 360 yang salah target pada tahun 2016. Proyek yang dikendalikan Alberto Soler itu awalnya digadang-gadang akan menjadikan La Masia lebih baik dengan meningkatkannya fasilitas dan mengembangkan program yang ada. Tetapi kenyataannya malah berbalik, proyek itu memperburuk La Masia. La Masia kini tidak lagi memiliki asrama dan ruangan-ruangan lain 'disulap' menjadi ruang kantor. Mungkin, nasib La Masia dan para pemainnya akan lebih baik jika Bartomeu tidak lagi menjabat sebagai Presiden dan Valverde tidak lagi menjabat sebagai Pelatih.

Saturday, November 9, 2019

Tantangan Mempertahankan Ideologi Pancasila dan Nilai-Nilai Pancasila

Berkas:National emblem of Indonesia Garuda Pancasila.svg
Nanda Pryg - Generasi saat ini mempunyai peran penting dalam mempertahankan Ideologi Pancasila dan Nilai-Nilai Pancasila, tantangan yang dihadapi tentu lebih berat dari yang dihadapi generasi terdahulu. Proses pertukaran pandangan dunia, pemikiran, produk, dan budaya(Globalisasi) sangatlah bebas dan gampang diraih. Ditambah masyarakat Indonesia cenderung gampang terpengaruh dengan budaya luar seperti budaya Barat, Arab, maupun negara-negara di Asia Timur. Disamping itu, generasi saat ini juga dihadapi tantangan dari dalam negeri yang bisa memacu Disintegrasi Bangsa.

Berikut contoh pengaruh dari dalam dan pengaruh dari luar.


Contoh Pengaruh Dari Dalam

1. Rasisme. Masih banyak masyarakat Indonesia yang berlaku rasis, yang akhir-akhir ini sering ditujukan kepada orang papua ataupun etnis keturunan Tionghoa. Setiap penilaian pribadi terhadap orang Papua dan keturunan Tionghoa selalu dipengaruhi kesubjektifan, yang sudah tertanam dari pengaruh masyarakat sekitar. Kesubjektifan itu begitu kuat sehingga sulit diubah. Kasus rasisme merupakan salah satu hal paling sensitif di dunia sekalipun. 
2. Sara. Sama seperti Rasisme, masyarakat Indonesia juga masih sering berlaku sara dan ini merupakan kasus yang begitu sensitif. Kasus sara sering dimanfaatkan untuk kepentingan politik, menjatuhkan politikus agama minoritas. Masyarakat Indonesia masih sangat gampang dipengaruhi oleh itu karena menyangkut kepercayaan, tapi ini Negara Indonesia dimana semua berhak mendapatkan hak dan kewajibannya, apapun agamanya.

Kedua hal ini disebabkan kurangnya kesadaran akan penerapan nilai-nilai sila ke-3 Pancasila dan motto dari Pancasila itu sendiri. Kita sama-sama Indonesia, tetap satu, meski berbeda ras, suku, agama, ataupun bahasa tapi mengapa masih banyak yang membeda-bedakan itu?


Contoh Pengaruh Dari Luar

1. Globalisasi, Masuknya budaya luar yang diterima secara langsung tanpa disaring oleh masyarakat. Entah itu budaya yang asalnya dari Barat, Arab, ataupun Asia Timur. Hal itu akan selalu menggerus Nilai-Nilai Pancasila. Hal ini bisa mengakibatkan gaya hidup yang kebarat-baratan ataupun kearab-araban dan rasa cinta tanah air juga akan memudar.
2. Ideologi luar, Ideologi luar seperti Liberal maupun Ideologi agama tersendiri jelas mengancam eksistensi dari nilai-nilai Pancasila bahkan Pancasila secara utuh. Apalagi sekarang-sekarang ini banyak yang ngotot ingin menjadikan Ideologi kelompok pribadi menjadi Ideologi yang diterapkan di Indonesia, yang jika diterapkan akan menggeser Pancasila, tidak berlaku adil ke semua WNI, dan dirasakan oleh orang non-kelompoknya.

Kedua hal ini disebabkan kurangnya rasa cinta akan Indonesia ataupun Pancasila, padahal Pancasila ini yang terbaik untuk diterapkan di Indonesia, paling cocok dengan kondisi di Indonesia. 


Cara-Cara Untuk Mempertahankan Nilai-Nilai Pancasila

1. Menerapkan dan mengamalkan nilai-nilai sila pertama sampai kelima dalam Pancasila. Kita Ditambah kita diwajibkan tidak membeda-bedakan warna kulit, agama, dan suku yang ada di Indonesia, itu contoh dari penerapan nilai-nilai sila ketiga dan motto Pancasila itu sendiri.
2. Menumbuhkan rasa Nasionalisme/cinta tanah air dan juga cinta terhadap Pancasila, jika benci dengan pejabat yang ada di Indonesia bencilah mereka, jangan benci dengan Indonesia. Teruntuk Pancasila, selalu ingat bahwa Pancasila adalah buah pemikiran dari pahlawan terdahulu dan yang terbaik diterapkan di Indonesia ini.
3. Berhenti berkelakukan rasis ataupun sara karena itu bertentangan dengan nilai-nilai pancasila itu sendiri.
4. Tidak mudah terpengaruh terhadap pengaruh globalisasi, kita harus selektif membedakan mana pengaruh globalisasi yang bisa mengikis nilai-nilai pancasila dan yang tidak.
5. Tidak terpengaruh terhadap Ideologi luar, kita harus berfikir mana Ideologi yang paling cocok diterapkan di Indonesia dan Ideologi mana yang bisa berlaku adil terhadap semua Warga Negara Indonesia, tanpa terkecuali.