Friday, December 13, 2019

Partai Politik Indonesia di era Kolonial Belanda, Pendudukan Jepang, dan Setelah Kemerdekaan

Nanda Pryg - Pada zaman kolonial Belanda lahirlah beberapa partai politik dengan tujuannya masing-masing, seperti bertujuan sosial (Budi Utomo dan Muhammadiyah), menganut asas politik/agama (Sarekat Islam dan Partai Katolik) atau asas politik sekuler (PNI dan PKI), partai pada saat itu memainkan peran penting dalam berkembangnya pergerakan nasional dan terlihat menggunakan sistem multi-partai. 

Pada tahun 1918 pihak Belanda mendirikan Volksraad yang berfungsi sebagai badan perwakilan. Ada beberapa partai serta organisasi yang memanfaatkan kesempatan untuk bergerak melalui badan ini (yang dinamakan ko, yang menolak masuk di dalamnya dinamakan non-ko), pada awal partisipasi organisasi Indonesia sangat terbatas. Dari 38 anggota yang ketuanya orang Belanda, hanya ada 15 orang Indonesia, di antaranya 6 anggota Budi Utomo dan Sarekat Islam. Komposisi baru berubah pada tahun 1939 waktu diterima prinsip "mayoritas pribumi", sehingga dari 60 orang anggota ada 30 orang pribumi. Pada tahun 1939 Fraksi Pribumi terpenting dalam Volksraad antara lain Fraksi Nasional Indonesia (FRANI) yang merupakan gabungan dari beberapa fraksi, di antaranya Parindra dan Perhimpunan Pegawai Bestuur Bumiputra (PPBB), ketua Volksraad tetap orang Belanda.
Dalam kenyataannya organisasi-organisasi kemasyarakatan dan partai mengalami kesukaran untuk bersatu dan membentuk satu front untuk menghadapi pemerintahan kolonial. Keadaan ini berlangsung sampai pemerintahan Hindia Belanda ditaklukan oleh tentara Kerajaan Jepang. Akan tetapi, pola kepartaian yang telah terbentuk di Zaman Kolonial kemudian dilanjutkan dan menjadi landasan untuk terbentuknya pola sistem multi-partai di Zaman Merdeka.
 Teruntuk pada rezim pemerintahan Jepang yang sangat represif, bertahan sampai tiga setengah tahun. Semua sumber daya alam dan manusia dikerahkan untuk menunjang perang “Asia Timur Raya”, dalam rangka itu semua partai dibubarkan dan setiap kegiatan politik dilarang. Hanya golongan Islam diperkenankan membentuk suatu orgaisasi sosial yang dinamakan Masyumi.

Pergerakan parta politik setelah zaman kemerdekaan didominasi oleh Partai Nasional Indonesia (PNI), Masyumi, Nahdlatul Ulama (NU), dan Partai Komunis Indonesia (PKI), hal itu dibuktikan dari pemilu pertama pada tahun 1955. Pada tahun 1948 terjadi pemberontakan PKI di Madiun, lalu pada tahun 1965 terjadi gerakan PKI yang menculik tujuh perwira tinggi Indonesia yang berujung pada berakhirnya masa jabatan presiden Soekarno dan dilarangkannya PKI.
Pada pemerintahan Soeharto di pemilu 1971 jumlah partai masih banyak, lalu pada tahun 1977 partai mulai disempitkan menjadi tiga yaitu Golkar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Golkar terus memenangkan Pemilu dengan segala kontroversi yang jelas menguntungkan Golkar, kontroversinya berupa pembentukan Korpri sebagai wadah satu-satunya bagi pegawai negeri, dwifungsi ABRI, penyederhanaan partai politik, serta kerusuhan di lapangan banteng pada 18 Maret 1982 yang dirasa direkayasa untuk mendiskreditkan Ali Sadikin, yang bisa menjadi pesaing Soeharto saat itu. sampai pada dominasi Golkar berakhir pada Pemilu 1999 dengan lahirnya PDI-P sebagai partai baru yang memenangkan itu.

Perpecahan partai PDI berawal dari tidak puasnya pemerintahan Soeharto dengan terpilihnya Megawati sebagai ketua umum PDI. Lalu terciptalah Peristiwa Kudatuli (Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli),  yang merupakan peristiwa pengambilalihan secara paksa kantor DPP PDI. Penyerbuan dilakukan oleh pendukung Soerjadi serta dibantu oleh aparat dari kepolisian dan TNI, tetapi pemerintah Soeharto saat itu malah menuduh aktivis PRD sebagai penggerak kerusuhan. Akhirnya, Megawati keluar dari PDI dan membentuk partai baru yaitu PDI-P, partai PDI masih bertahan dibawah Budi Hardjono. Pemilu 1999 PDI-P menang telak atas PDI lalu Budi Hardjono mengubah nama PDI menjadi PPDI (Partai Penegak Demokrasi Indonesia).

Referensi 
Buku Dasar-Dasar Ilmu Politik karya Prof. Miriam Budiardjo
Budiardjo, Miriam. 2017. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: Percetakan Prima Grafika

Friday, November 22, 2019

Akademi La Masia Tidak Secerah Dulu


Nanda Pryg - La Masia merupakan akademi dari salah satu klub terbaik di dunia, FC Barcelona. Dulunya pernah dibilang akademi terbaik di dunia, penghasil pesepakbola terbaik di dunia, tetapi sekarang semakin terpuruk. Nama terakhir yang bisa dikatakan sukses hanyalah Sergi Roberto yang dipromosikan pada musim 2013/14 oleh pelatih Barcelona saat itu, Tito Vilanova. Untuk kondisi sekarang ada nama Carles Alena di tim utama, tapi masih jauh dari kata sukses. Alena masih sulit menembus skuad utama karena Midfielder-nya dipenuhi pemain matang yang terus-terusan datang dan pergi. Selain Alena begitu banyak pemain lulusan La Masia yang disia-siakan.

La Masia pernah bangkit musim 2008/09 dengan meraih sextuple di tangan Pep Guardiola yang diikuti dengan kesuksesan para lulusannya. Saat itu Pep berani melepas nama-nama beken seperti Deco dan Ronaldinho, selanjutnya giliran nama-nama seperti Thierry Henry, Yaya Toure, dan Rafael Marquez yang dilepas. Hal itu memberi tempat kepada pemain La Masia di tim utama seperti Sergio Busquets, Gerard Pique, Pedro Rodriguez, dan terakhir Thiago Alcantara yang masih hijau saat itu. Tongkat estafet kemudian dilanjutkan oleh Tito Vilanova yang rutin memainkan pemain La Masia, puncaknya pada musim 2012/13 kala bertanding ke markas Levante, sebelas pemain di atas lapangan semuanya lulusan La Masia. La Masia mulai tidak dipercaya pada akhir masanya Luis Enrique dan itu semakin parah dimasanya Ernesto Valverde, tim utama semakin penuh dengan pemain Non-La Masia. Valverde dan Bartomeu lebih memilih membeli pemain matang yang begitu banyak, sehingga dari posisi inti sampai ke cadangan banyak diisi oleh pemain Non-La Masia, hal itu sangat menutupi peluang pemain lulusan La Masia untuk merebut posisi inti. Diberi kesempatannya Ansu Fati juga lebih disebabkan oleh tidak adanya opsi lain, karena saat itu Luis Suarez, Lionel Messi, dan Oussmane Dembele dilanda cedera, praktis tinggal nama Antoine Griezmann di posisi Forward. Jika dibilang La Masia itu menurun, Barcelona Juvenil A selalu berbicara banyak di kompetisi UEFA Youth League, musim kemarin Juvenil A mampu sampai ke babak Semi Final dan di musim 2017/18 Juvenil A keluar sebagai juara. Tapi siapa dari mereka yang setidaknya meraih lima caps di tim utama? Hanya Ansu Fati.

Disamping karena kurangnya kepercayaan oleh pelatih dan pemilik klub yang menginginkan suatu hal yang instan, menurunnya La Masia juga disebabkan oleh proyek Masia 360 yang salah target pada tahun 2016. Proyek yang dikendalikan Alberto Soler itu awalnya digadang-gadang akan menjadikan La Masia lebih baik dengan meningkatkannya fasilitas dan mengembangkan program yang ada. Tetapi kenyataannya malah berbalik, proyek itu memperburuk La Masia. La Masia kini tidak lagi memiliki asrama dan ruangan-ruangan lain 'disulap' menjadi ruang kantor. Mungkin, nasib La Masia dan para pemainnya akan lebih baik jika Bartomeu tidak lagi menjabat sebagai Presiden dan Valverde tidak lagi menjabat sebagai Pelatih.

Saturday, November 9, 2019

Tantangan Mempertahankan Ideologi Pancasila dan Nilai-Nilai Pancasila

Berkas:National emblem of Indonesia Garuda Pancasila.svg
Nanda Pryg - Generasi saat ini mempunyai peran penting dalam mempertahankan Ideologi Pancasila dan Nilai-Nilai Pancasila, tantangan yang dihadapi tentu lebih berat dari yang dihadapi generasi terdahulu. Proses pertukaran pandangan dunia, pemikiran, produk, dan budaya(Globalisasi) sangatlah bebas dan gampang diraih. Ditambah masyarakat Indonesia cenderung gampang terpengaruh dengan budaya luar seperti budaya Barat, Arab, maupun negara-negara di Asia Timur. Disamping itu, generasi saat ini juga dihadapi tantangan dari dalam negeri yang bisa memacu Disintegrasi Bangsa.

Berikut contoh pengaruh dari dalam dan pengaruh dari luar.


Contoh Pengaruh Dari Dalam

1. Rasisme. Masih banyak masyarakat Indonesia yang berlaku rasis, yang akhir-akhir ini sering ditujukan kepada orang papua ataupun etnis keturunan Tionghoa. Setiap penilaian pribadi terhadap orang Papua dan keturunan Tionghoa selalu dipengaruhi kesubjektifan, yang sudah tertanam dari pengaruh masyarakat sekitar. Kesubjektifan itu begitu kuat sehingga sulit diubah. Kasus rasisme merupakan salah satu hal paling sensitif di dunia sekalipun. 
2. Sara. Sama seperti Rasisme, masyarakat Indonesia juga masih sering berlaku sara dan ini merupakan kasus yang begitu sensitif. Kasus sara sering dimanfaatkan untuk kepentingan politik, menjatuhkan politikus agama minoritas. Masyarakat Indonesia masih sangat gampang dipengaruhi oleh itu karena menyangkut kepercayaan, tapi ini Negara Indonesia dimana semua berhak mendapatkan hak dan kewajibannya, apapun agamanya.

Kedua hal ini disebabkan kurangnya kesadaran akan penerapan nilai-nilai sila ke-3 Pancasila dan motto dari Pancasila itu sendiri. Kita sama-sama Indonesia, tetap satu, meski berbeda ras, suku, agama, ataupun bahasa tapi mengapa masih banyak yang membeda-bedakan itu?


Contoh Pengaruh Dari Luar

1. Globalisasi, Masuknya budaya luar yang diterima secara langsung tanpa disaring oleh masyarakat. Entah itu budaya yang asalnya dari Barat, Arab, ataupun Asia Timur. Hal itu akan selalu menggerus Nilai-Nilai Pancasila. Hal ini bisa mengakibatkan gaya hidup yang kebarat-baratan ataupun kearab-araban dan rasa cinta tanah air juga akan memudar.
2. Ideologi luar, Ideologi luar seperti Liberal maupun Ideologi agama tersendiri jelas mengancam eksistensi dari nilai-nilai Pancasila bahkan Pancasila secara utuh. Apalagi sekarang-sekarang ini banyak yang ngotot ingin menjadikan Ideologi kelompok pribadi menjadi Ideologi yang diterapkan di Indonesia, yang jika diterapkan akan menggeser Pancasila, tidak berlaku adil ke semua WNI, dan dirasakan oleh orang non-kelompoknya.

Kedua hal ini disebabkan kurangnya rasa cinta akan Indonesia ataupun Pancasila, padahal Pancasila ini yang terbaik untuk diterapkan di Indonesia, paling cocok dengan kondisi di Indonesia. 


Cara-Cara Untuk Mempertahankan Nilai-Nilai Pancasila

1. Menerapkan dan mengamalkan nilai-nilai sila pertama sampai kelima dalam Pancasila. Kita Ditambah kita diwajibkan tidak membeda-bedakan warna kulit, agama, dan suku yang ada di Indonesia, itu contoh dari penerapan nilai-nilai sila ketiga dan motto Pancasila itu sendiri.
2. Menumbuhkan rasa Nasionalisme/cinta tanah air dan juga cinta terhadap Pancasila, jika benci dengan pejabat yang ada di Indonesia bencilah mereka, jangan benci dengan Indonesia. Teruntuk Pancasila, selalu ingat bahwa Pancasila adalah buah pemikiran dari pahlawan terdahulu dan yang terbaik diterapkan di Indonesia ini.
3. Berhenti berkelakukan rasis ataupun sara karena itu bertentangan dengan nilai-nilai pancasila itu sendiri.
4. Tidak mudah terpengaruh terhadap pengaruh globalisasi, kita harus selektif membedakan mana pengaruh globalisasi yang bisa mengikis nilai-nilai pancasila dan yang tidak.
5. Tidak terpengaruh terhadap Ideologi luar, kita harus berfikir mana Ideologi yang paling cocok diterapkan di Indonesia dan Ideologi mana yang bisa berlaku adil terhadap semua Warga Negara Indonesia, tanpa terkecuali.

Wednesday, October 16, 2019

Komunis sudah pasti Ateis?

Nanda Pryg - Heran! Mengapa di Indonesia ini masih banyak orang yang mengaitkan Faham atau Ideologi Komunis dengan Ateis. Padahal itu adalah dua hal yang sangat jauh berbeda. Komunisme hanyalah salah satu Ideologi yang ada di dunia ini sedangkan Ateis itu sendiri adalah bentuk dari ketidakpercayaan akan adanya Tuhan.

Komunisme adalah suatu ideologi yang mengutamakan kesamarataan ekonomi dan kepemilikan bersama didalam masyarakatnya yang tidak ada kelas sosial, mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi, dan hal itu semua dipimpin langsung oleh kepala negara itu sendiri. Ideologi ini merupakan salah satu Ideologi yang lahir dari teori Karl Marx yaitu teori kelas sosial. Teruntuk Komunisme Internasional yang diusung Uni Soviet sendiri itu sudah tidak murni berdasar pemikiran Karl Marx, sudah ada campur pemikiran dari Vladimir Lenin(Kepala Pemerintahan pertama Uni Soviet) lalu lahirlah Marxisme-Leninisme.

Sedangkan Ateis adalah sebuah pandangan yang tidak mempercayai adanya Tuhan.  Ateis sendiripun tidak mengurusi segala konsep Negara seperti apa yang bisa difahami di Ideologi Komunis. Ateis hanya terbatas kepada ketidak percayaan akan Tuhan, itu saja.

Setelah kita melihat penjelasan tentang Komunis ataupun Ateis, kita bisa lihat kedua hal itu tidak saling berkaitan. Mungkin hanya karena ungkapan Karl Marx yang pernah bilang agama merupakan candu ataupun penerapan dari negara Korea Utara yang mewajibkan masyarakatnya untuk menyembah pemimpinnya, yang membuat Ateis dengan Komunis sering erat dikaitkan.

Apakah pengertian Radikal yang sebenarnya?

Nanda Pryg - Di Indonesia sekarang ini penafsiran tentang Radikal masih simpang siur dan banyak yang terindikasi menyesatkan, ada yang bilang Radikal adalah sikap terhadap pemimpin Non Muslim, suatu kekerasan yang berbasis Agama, ada juga yang bilang Radikal itu suatu tindakan Anarkisme. Itu salah semua!

Apakah pengertian Radikal yang sebenarnya?

Radikal menurut kbbi adalah 1. Secara mendasar(sampai kepada hal yang prinsip):perubahan yang-;2. Pol amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan); maju dalam berpikir atau bertindak;
Radikal adalah suatu keinginan yang amat keras menginginkan perubahan dari titik yang paling akar seperti Ideologi dan Undang-Undang. Radikal tidak ada kaitannya dengan sikap seseorang terhadap Non Muslim, agama seseorang, ataupun harus ada atau tidaknya suatu tindakan Anarkisme. Itu hal yang jauh berbeda.

Radikal itu tidak selalu berarti Negatif, ada Radikal yang berarti Positif, tergantung persepsi dan pandangan.
Contoh Radikal yang positif adalah tindakan Mahasiswa yang amat keras menuntut perubahan UU KPK yang baru saja disahkan melalui Perppu KPK, seperti yang kita tahu sekarang bahwa UU KPK terlihat melemahkan KPK itu sendiri.
Contoh Radikal yang negatif adalah gerakan HTI di Indonesia, mereka amat keras ingin menegakan Khilafah di Indonesia ini, mereka ingin Indonesia menjadi bagian dari satu gabungan Negara Khilafah yang dipimpin oleh seorang Khalifah. Yang dinegatifkan ialah jika Khilafah ada, eksistensi Pancasila sebagai Ideologi Negara yang paling cocok di Indonesia yang beraneka ragam ini akan tersisihkan. Jika Khilafah ada, Pancasila akan dikemanakan?